Selasa, 10 Juli 2012

Menghadapi Suami Arogan

Perlu diingat, bahwa pernikahan itu menyatukan dua manusia, dua hati, dua sifat, dua karakter, dua kebiasaan dan dua budaya yang berbeda.
Suami atau istri dilahirkan dan dibesarkan oleh orang tua yang berbeda, dibimbing dan didik dengan cara yang berbeda, dari lingkungan yang berbeda, latar belakang pendidikan yang berbeda.
Seringkali latar belakang inilah yang membentuk seseorang menjadi pribadi yg seperti sekarang kita lihat. Misalnya, apabila suami atau istri adalah anak bungsu atau anak lelaki atau anak perempuan satu-satunya yang sering dimanja oleh orang tuanya, tentu sifat-sifat yg tidak mandiri atau sifat mau menang sendiri, keras kepala, nggak mau mengalah, arogan, akan terbawa dalam keluarga yang kita bina,
Atau suami, istri yang dibesarkan di lingkungan yang terbiasa bicara kasar, inipun akan berdampak saat dia sudah berkeluarga.
"Setiap anak lahir dalam keadaan fithrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi" (HR. Bukhori)
Melalui hadits ini Rosulullah mengingatkan kepada kita, bahwa faktor pola asuh kedua orang tua, lingkungan, pendidikan, agama, akan sangat mempengaruhi karakter seseorang.
Bagaimana menyikapi karakter suami atau istri seperti ini?

Pertama, Hadapilah suami atau istri yang pemarah, egois, arogan, dengan lapang dada, karena dibalik ketidak sempurnaanya pasti Allah menitipkan kesempurnaan dalam bentuk yang lain, dibalik kekurangannya pasti Allah menitipkan kelebihan, sebagaimana ketidak sempurnaan, kelebihan dan kekurangan itupun ada pada diri kita.

Kedua, sebagai seorang muslim, sebesar apapun masalah yang tengah terjadi tentu kita kembali kepada ajaran islam, hadapilah karakter suami atau istri yang demikian dengan wayadrouna bil hasanati sayyiat. (menyikapi dengan kebaikan)
Artinya, jangan membalas kemarahan dengan kemarahan, egois dengan egois atau arogan dengan arogan. Ketika kita menyikapi kemarahan dengan kemarahan, egoisme dengan egoisme atau arogansi dengan aragansi, itu artinya kita sedang menabuh genderang perang didalam rumah tangga atau sedang menumbuhkan bibit-bibit perang badar didalam rumah tangga. ☺ Yang akan membuat rumah tangga jauuuuh dari nilai-nilai sebagaiman yang dilukiskan oleh Allah dalam Al-Quran, Sakinah Mawaddah Warahmah (rumah tangga yang tentram, penuh cinta dan kasih sayang)
Ketiga, salah satu pilar yang sangat penting dalam rumah tangga adalah, membangun komunikasi yang ma’ruf (baik)


Komunikasikan apa yang ingin dikomunikasikan kepada suami atau istri dengan cara yang bijak. Bijak dalam menyampaikan, bijak dalam mendengarkan.
Artinya, sampaikanlah apa yang mengganjal didalam hati tentang karakter suami yang tidak menyenangkan itu dengan cara yang bijak, sampaikan pada saat yang tepat yaitu ketika suami sedang tenang, sambil santai dan jangan ada kesan menggurui.
Dan jangan bosan untuk terus mengingatkan suami, boleh jadi hari ini dia belum berubah, Insya Allah besok, lusa,, minggu depan, bulan depan dst, atas izin Allah suami akan berubah menjadi lebih baik.


Keempat, jangan putus berharap dan berdoa, mohonkan kepada Allah semoga suami dapat menjadi imam yang bagi keluarga.
"Robbana hablana min azwajina wamin dzurriyyatina qurrota a’yun waja’alna lilmuttaqina imama.." (Al-Furqon 25:74) Allahumma aamiin..

0 komentar:

Posting Komentar