Perlu diingat, bahwa pernikahan itu menyatukan dua
manusia, dua hati, dua sifat, dua karakter, dua kebiasaan dan dua
budaya yang berbeda.
Suami atau istri dilahirkan
dan dibesarkan oleh orang tua yang berbeda, dibimbing dan didik dengan
cara yang berbeda, dari lingkungan yang berbeda, latar belakang
pendidikan yang berbeda.
Seringkali latar
belakang inilah yang membentuk seseorang menjadi pribadi yg seperti
sekarang kita lihat. Misalnya, apabila suami atau istri adalah anak
bungsu atau anak lelaki atau anak perempuan satu-satunya yang sering
dimanja oleh orang tuanya, tentu sifat-sifat yg tidak mandiri atau
sifat mau menang sendiri, keras kepala, nggak mau mengalah, arogan,
akan terbawa dalam keluarga yang kita bina,
Atau suami, istri yang dibesarkan di lingkungan yang terbiasa bicara kasar, inipun akan berdampak saat dia sudah berkeluarga.
"Setiap anak lahir dalam keadaan fithrah, kedua orangtuanyalah yang menjadikan dia yahudi, nasrani atau majusi" (HR. Bukhori)
Melalui
hadits ini Rosulullah mengingatkan kepada kita, bahwa faktor pola asuh
kedua orang tua, lingkungan, pendidikan, agama, akan sangat
mempengaruhi karakter seseorang.
Bagaimana menyikapi karakter suami atau istri seperti ini?
Pertama,
Hadapilah suami atau istri yang pemarah, egois, arogan, dengan lapang
dada, karena dibalik ketidak sempurnaanya pasti Allah menitipkan
kesempurnaan dalam bentuk yang lain, dibalik kekurangannya pasti Allah
menitipkan kelebihan, sebagaimana ketidak sempurnaan, kelebihan dan
kekurangan itupun ada pada diri kita.
Kedua, sebagai seorang
muslim, sebesar apapun masalah yang tengah terjadi tentu kita kembali
kepada ajaran islam, hadapilah karakter suami atau istri yang demikian
dengan wayadrouna bil hasanati sayyiat. (menyikapi dengan kebaikan)
Artinya,
jangan membalas kemarahan dengan kemarahan, egois dengan egois atau
arogan dengan arogan. Ketika kita menyikapi kemarahan dengan kemarahan,
egoisme dengan egoisme atau arogansi dengan aragansi, itu artinya kita
sedang menabuh genderang perang didalam rumah tangga atau sedang
menumbuhkan bibit-bibit perang badar didalam rumah tangga. ☺ Yang akan
membuat rumah tangga jauuuuh dari nilai-nilai sebagaiman yang
dilukiskan oleh Allah dalam Al-Quran, Sakinah Mawaddah Warahmah (rumah
tangga yang tentram, penuh cinta dan kasih sayang)
Ketiga, salah satu pilar yang sangat penting dalam rumah tangga adalah, membangun komunikasi yang ma’ruf (baik)
Komunikasikan
apa yang ingin dikomunikasikan kepada suami atau istri dengan cara
yang bijak. Bijak dalam menyampaikan, bijak dalam mendengarkan.
Artinya,
sampaikanlah apa yang mengganjal didalam hati tentang karakter suami
yang tidak menyenangkan itu dengan cara yang bijak, sampaikan pada saat
yang tepat yaitu ketika suami sedang tenang, sambil santai dan jangan
ada kesan menggurui.
Dan jangan bosan untuk terus mengingatkan
suami, boleh jadi hari ini dia belum berubah, Insya Allah besok, lusa,,
minggu depan, bulan depan dst, atas izin Allah suami akan berubah
menjadi lebih baik.
Keempat, jangan putus berharap dan berdoa, mohonkan kepada Allah semoga suami dapat menjadi imam yang bagi keluarga.
"Robbana
hablana min azwajina wamin dzurriyyatina qurrota a’yun waja’alna
lilmuttaqina imama.." (Al-Furqon 25:74) Allahumma aamiin..
Selasa, 10 Juli 2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Jakarta Time
0 komentar:
Posting Komentar