Senin, 30 Juli 2012

Berusaha Menjadi Kekasih Allah


Menjadi Kekasih Allah

Allah menciptakan alam semesta ini dengan cinta. Dengan kasih sayang-Nya pula Allah menciptakan manusia dalam wujud yang sempurna, ahsanu taqwiim. Dan dengan kasih sayang itu Allah menjadikan seisi langit dan bumi untuk kehidupan manusia. Betapa besar dan luasnya kasih sayang Allah tersebut kepada manusia. Allah tidak pernah meminta sesuatu apa pun imbalan dari manusia. Allah hanya meminta manusia untuk menyembah-Nya sebagai wujud ketakwaan, penghambaan makhluk kepada khaliknya. Sebaik-baik amal adalah ibadah, yaitu segala perbuatan yang diorientasikan untuk menggapai ridha Allah. Dan sebaik-baik ibadah adalah ibadah yang dilandasi atas dasar cinta. Karena cintalah yang menyebabkan Allah untuk mencipta.

Cinta identik dengan iman. Adanya cinta dalam diri seseorang disebabkan oleh adanya keimanan dalam diri orang tersebut.vSetiap ibadah yang digerakan oleh cinta adalah satu bentuk kerinduan seorang kekasih terhadap yang dikasihinya. Allah telah begitu banyaknya melimpahkan kasih sayang kepada kita. Kecintaan-Nya yang telah membuat kita hadir, kecintaan-Nya yang membuat kita sampai detik ini masih bisa bernafas dan melakoni segala liku kehidupan ini. Mencintai Allah, di dalamnya terkandung satu kerinduan, yaitu kerinduan kepada asal kita. Bukankah semua makhluk ini bersumber dari yang satu? Bukankah ruh yang ada dalam diri manusia dan alam semesta ini adalah ruh Allah, yang dengannya kita hidup? Dan, hanya orang-orang yang mencintai dan dicintai Allah-lah yang akan sampai kepada-Nya. Sehingga di hari akhir nanti yang adalah pertemuan antara sang kekasih dengan yang dikasihi. Jangan berharap untuk melihat wajah Allah kelak di hari akhir, apabila kita tidak pernah menjadi kekasih Allah! Lalu bagaimana kita bisa menjadi kekasih Allah?

Orang yang mencintai Allah SWT adalah orang yang selalu dilanda kasmaran, kerinduan yang mendalam (syauq). Sebagaimana orang-orang yang sedang jatuh cinta, hal ini biasanya ditandai dengan beberapa sikap. Pertama, berbuat oleh karena dan untuk sang kekasih. Bagi orang yang sedang jatuh cinta, tidak ada yang terasa buruk di dunia ini. Hatinya hanya dipenuhi oleh keindahan-keindahan. Bahkan dunia ini terasa hilang, yang ada adalah wajah yang dicintainya. Kemanapun dia pergi, kemanapun dia berpaling, setiap waktu, setiap saat, yang nampak adalah wajah sang kekasih. Suasana yang bising menjadi hening, karena yang ada hanyalah dia dengan yang dikasihinya.

Yang terdengar adalah suara-suara merdu, bisikan-bisakan mesra dari sang kekasih. Suara yang memanggil-manggil namanya. Apabila dia dipanggil, maka dia akan segera menjawab panggilan kekasihnya tersebut. Begitupun apa yang dia lakukan, tidak lain adalah karena dan untuk sang kekasih. Segala aktivitasnya tidak lain adalah untuk mecuri hati dan perhatian sang kekasih. Maka apapun dilakukan agar sang kekasih memperhatikanan, atau bahkan hanya sekedar meliriknya. Begitulah orang yang ingin menjadi kekasih Allah berprilaku. Tidak alain tujuan hidupnya selain sang kekasih, hidup bersama-Nya.

Kedua, selalu mengingat dan menyebut nama-Nya. Orang yang sedang jatuh cinta, sedang dimabuk kepayang, setiap aliran darahnya hanya mengalirkan memori tentang Sang Kekasih. Memorinya terpenuhi oleh kebaikan-kebaikan Sang Kekasih. Apa yang datang dari sang kekasih adalah kebaikan, meski bagi orang lain merupakan penderitaan. Setiap tarikan nafas orang yang mabuk kasih sayang adalah desah sebut nama-Nya. Apa yang keluar dari lisannya, tak lain adalah nama sang kekasih, pujian-pujian kepada sang kekasih. Karena orang yang jatuh cinta pastilah selalu menyebut-nyebut namanya. Tidak pernah kering bibirnya dari melafalkan namanya. Dia selalu membicarakan kekasihnya kepada siapa saja, kapan saja dan di mana saja, dan tetntu kebaikan-kebaikanya yang dia bicarakan. Orang yang sedang jatuh cinta tidak akan pernah melihat kejelekan dalam diri kekasihnya. Dia tidak akan pernah berburuk sangka terhadap kekasihnya.

Orang yang sedang jatuh cinta tidak akan pernah bosan untuk mengobrol, berdialog dengan yang dikasihinya. Bahkan saat-saat seperti itulah yang dia cari. Pertemuan seperti itulah yang selalu dia inginkan, sehingga menumbuhkan kerinduan yang teramat sangat. Kerinduan-kerinduan itu kemudian membuncah dalam senandung-senandung yang penuh penghayatan, yang menyata-nyayat hati. Kerinduan seperti itulah yang membuat Maulana Jalaluddin Rumi bernyanyi dan menari. Kerinduan seperti itulah yang terbungkus dalam syair-syair Muhammad Iqbal, Hamzah al-Fansyuri dan para sufi-sufi agung lainnya. Itulah nyanyian siur seruling yang merindukan kerumunan bambu. Itulah kerinduan malam akan purnama, itulah kerinduan air yang selalu mencari cela untuk menuju samudra. Tiada yang lebih menggembirakan bagi orang yang memanggil, kecuali mendapatkan jawaban. Tiada yang lebih menyejukkan bagi orang yang memerhatikan Kekasihnya selain saat-saat dimana Sang Kekasih menatapnya dan menyapanya. Mencintai Allah, berarti selalu menyebutnya, tiap waktu, tiap tempat dan di segala kondisi. Ketika dia berdiri, duduk, maupun berbaring.

Ketiga, mencintai apa yang dicintai dan membenci apa yang dibenci sang kekasih. Selain mencari perhatian dari sang kekasih, seorang pencinta juga tidak pernah melepaskan perhatiannya kepada sang kekasih. Dia memperhatikan, sehingga mengetahui benar apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh kekasihnya. Tidak sebatas mengetahinya, dia juga berusaha mencintai apa yang dicintai oleh kekasihnya. Sama halnya ketika seseorang pemuda jatuh cinta kepada lain jenisnya, maka apabila pujaan hatinya tersebut menyukai mawar, maka dia akn berusaha mencintai mawar, dan selalu memberi kekasihnya tersebut mawar. Atau ketika dia membenci jengkol, misalnya, maka dia tidak akan pernah mengajaknya makan jengkol, atau bahkan menjauhkan jengkol tersebut dari jangkauan kekash hatinya.

Begitulah seharusnya kecintaan kepada Allah. Orang yang mencintai Allah dan ingin menjadi kekasih-Nya, maka dia harus mencintai apa yang dicintai oleh Allah SWT, dan membenci apa yang dibenci Allah SWT. Allah mencintai perbuatan baik, orang-yang sabar, orang yang bertobat dan membersihkan diri, orang yang bertakwa dan orang yang tawakal. Selain itu, Allah sangat mencintai orang-orang miskin, bahkan Allah bersama mereka. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman; dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman pada hari kiamat kelak, ‘Hai Bani Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjengguk-Ku’. Ia lantas bertanya, ‘Ya Tuhanku, bagaimana aku menjenguk-Mu sedangkan Engkau adalah Rabb alam semesta?’ Allah pun berfirman, ‘Bukankah engkau tahu bahwa hamba-Ku si fulan sedang sakit, tetapi engkau tidak menjenguknya? Bukankah engkau tahu bahwa seandainya engkau menjenguknya, maka engkau akan menemukan Aku di sisinya?’”

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa cinta berkaitan dengan iman kepada Allah. Dari itu, masih berkaitan dengan hadis di atas, Rasulullah bersabada: “tidak beriman seseorang di antara kamu sebelum dia mencintai orang lain sebagaimana dia mencinta dirinya sendiri.” Allah juga mencintai rasul-Nya, bahkan apabila kita kita mencintai-Nya, maka kita harus mencintai rasul-Nya, Muhammad SAW. Hal ini karena kecintaa nabi kepada Allah melebihi dari apa pun, begitu juga kecintaan Allah kepada Rasulullah SAW. Allah membenci perbuatan yang munkar, syirik, zalim, kafir dan kerusakan, dari itu, para pecinta Allah sudah semestinya membenci dan meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut, karena perbuatan-perbuatan tersebut akan mengantarkan kita kepada kemurkaan Allah. Perbuatan-perbuatan tersebut jelas tidak mencerminkan kecintaan kita kepada-Nya. Dan orang yang mendamba cinta Allah pastilah tidak akan melakukan hal yang bodoh ini.

Keempat, menjadi diri sang kekasih. Puncak kecintaan tidak lain adalah ketika seseorang telah menyatu bersama Yang Dikasihinya, yang dicintainya. Dia sudah tidak bisa membedakan lagi antara dirinya dengan sang kekasih. Sudah tidak ada keterpisahan lagi, tidak ada jarak lagi. Dengan demikian, tidak ada lagi subjek yang mencintai atau objek yang dicintai. Inilah yang oleh Rumi dikatakan sebagai terbakarnya kayu oleh api. Atau seperti besi yang dimasukkan ke dalam api. Dia memerah semerah api, sehingga susah dilihat keberadaan besi itu, namun demikian besi itu bukanlah api. Para pecinta yang telah mencapai titik ini dia menjadi seperti apa yang digambarakan Allah dalam hadis qudsi. Mereka berbicara dengan lisan Allah, mendengar dengan telinga Allah. berjalan dengan kaki Allah.

Mencinta memang sesuatu yang indah, namun jalan yang ditempuh oleh para pecinta tentu tidaklah mudah. Selalu ada saja angin yang lebih besar yang menerpa pohon yang lebih tinggi. Semakin kita berusaha mendekatkan diri kepada Sang Kekasih, semakin banyak cobaan itu datang. Semakin banyak yang harus kita korbankan. Semakin banyak yang harus kita lepaskan: ke-egoa-an kita, rasa kepemilikan kita dan rasa penentangan kita. Namun yakinlah, Allah SWT akan membimbing orang-orang yang menempu jalan menuju-Nya. Rasulullah SAW telah mengajarakan kepada umatnya jalan menuju kepada Allah SWT karena beliau adalah suri teladan kita, semestinyalah kita mengikuti jejak beliau. Rasulullah SAW senantiasa berdoa, memohon agar perbuatannya senantiasa mencerminkan kecintaan beliau kepada Allah SWT dan cinta Allah kepada hamba-Nya. “Ya Allah aku meminta kepada-Mu cinta-Mu, dan cinta kepada orang yang yang mencintaimu, dan amal (perbuatan) yang menyampaikan aku kepada cinta-Mu. “Ya Allah, jadikanlah kecintaanku kepada-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku, dan air dingin (saat dahaga).” Semoga kita kita dianugrahi kelembutan hati oleh Allah, sehingga kita bisa mencinta-Nya dan mencintai segala sesuatu karena-Nya. Wallahu a’lam bish showaab.

0 komentar:

Posting Komentar