"Poligami"
Karena itu kita harus menjawab beberapa pertanyaan berikut sehubungan persyaratan adil dalam poligami:
1. Apakah adil menjadi syarat sahnya poligami atau hanya sekedar syarat keutamaannya? Artinya walaupun tidak adil tetap sah, tapi tidak mendapat keutamaan dalam berpoligami.
2. Apakah adil itu berkaitan dengan materi atau non-materi, misalnya perasaan cinta, perhatian, dan lainnya? Jika berkaitan dg materi, itu mudah kalkulasinya pakai kalkulator. Tapi yang berkaitan dg non-materinya, apa ukurannya?
3. Memang adil tidak berarti sama. Adil menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka itu perlu sosok contoh dalam hal adil disini. Tidak cukup hanya konsep. Jika benar2 contohnya Rasulullah saw, maka jelas isteri pertamanya harus meninggal dulu.
4. Jika ukurannya perasaan, dari pihak mana tolok ukurnya? Suami yang berpoligami atau isteri yang dipoligami? Kalau Rasulullah saw perasaannya selalu terjaga, bagaimana kalau kita, mampu mennyeimbangkan perasaan?
Sekarang tentang soal marah Rasulullah saw pada isteri2nya:
1.
Kalau Rasulullah saw jelas bisa mengkontrol emosinya, yaitu marah
karena Allah dan cinta karena Allah swt. Tapi kalau kita, sulit
dibedakan antara marah karena Allah dan marah karena hawa nafsu dan
setan. Juga begitu cintanya.
2. Manusia biasa sulit bisa
membedakan hal tsb Biasanya isteri yg servisnya lebih memuaskan dan
lebih pinter merayu dia yang akan mendominasi suaminya. Kasihan dong
isteri2 yg lain. Bukti yg umum terjadi, isteri tuanya jarang ditidurin,
ditinggal2. Isteri mudanya sering ditidurin, bahkan lebih disayang dan
diperhatiin. Inilah yang banyak terjadi, sehingga isteri tuanya merasa
dan sakit hati yg dipendam lama2 akhirnya sakit jiwa. Jika demikian
faktanya, maka poligami tidak membawa manfaat, keluar dari hikmah hukum
poligami. Kita harus bedakan antara subtansi hukum dan hikmah hukum.
Setiap ketetapan hukum dlm Islam punya hikmah hukum yakni tujuan yg
hendak dicapai. Jika tujuan hukum itu tidak tercapai, siapa yang salah?
3.
Jika dengan poligami rumah tangga dg isteri pertamanya berantakan.
Apakah di sini tidak berdosa dan menggoncang Arasy Allah? Melaksanakan
hukum poligami tapi efeknya dosa dan menggoncang Arsy Allah. Saya kira
disini jelas tidak sesuai dengan tujuan Allah dan Rasul-Nya. Bukankah
disini banyak buktinya, anak dan isteri pertamanya kecewa akhirnya
berbuat kemaksiatan. Siapa yang salah, apakah hanya anak dan isteri?
Atau juga suami yang berpoligami?
4. Kalau gitu, apa artinya
berpoligami utk cari pahala tapi efeknya juga dosa. Ini untung di suami
rugi di pihak isteri. Dan Allah Maha Adil dalam menetapkan hukum. Saya
kira bukan begitu cara penerapan hukum poligami. Disini perlu dikaji
ulang secara lebih dalam tentang ayat poligami. Jangan2 didominasi oleh
pihak laki-laki.
5. Maaf, bisa jadi karena ustadz2 kebanyakan
laki2, apalagi di zaman kekuasaan Islam dulu perempuan di rumahkan dan
laki2 bebas berkeliaran. Coba lihat negara2 arab di Timur Tengah.
Jangan2 terjadi manipulasi penafsiran hukum poligami dari dulu hingga
sekarang. Karena para mufassir didominasi oleh laki-laki. Sampai
sekarang saya belum pernah jumpai mufassir dari kalangan perempuan.
Kasihan nasib perempuan.
6. Ayo kaum perempuan dan ibu2, belajar
tafsir Al-Qur’an. Jangan hanya diserahkan pada laki-kali. Mufassir itu
tidak selalu benar, mereka bukan makshumin, bisa jadi mereka itu salah
dalam menafsirkan ayat ttg poligami.
7. Buktinya sampai skrg saya
belum pernah membaca kitab2 tafsir yg tegas dan jelas apa yg
dimaksudkan dengan adil dalam ayat poligami. Kita lacak dan kita
diskusikan. Jangan2 terjadi manipulasi penafsiran utk menindas kaum
perempuan. Soalnya sekarang banyak terjadi menindas dan menzalimi orang
lain pakai dalil Al-Qur’an dan hadis.
8. Makanya, wahai kaum ibu
dan kaum perempuan mari bangkit dan belajar. Sanggah itu pendapat kaum
laki2 termasuk juga para mufassir. Sama2 manusia dan hamba Allah swt.
Jangan mau kalah argument dg laki2. Mereka juga tidak terjaga dari
salah dan dosa.
1. Jika dasarnya jumlah perempuan lebih banyak dari
laki2, apakah saat Nabi saw bersama Khadijah (sa) jumlah perempuan
lebih sedikit shg Nabi saw tidak perlu berpoligami? Dan saat Khadijah
wafat jumlah perempuan meningkat drastis sehingga Nabi saw harus
berpoligami?
2. Ini semua alasan dibuat oleh kaum laki2 utk
mencari pembenaran prilakunya. Kita harus katakan dg tegas, bukan itu
penyebabnya Nabi saw tidak berpoligami dan berpoligami. Ada sebab dan
maksud yg lain, yang belum diungkap. Itulah mesteri kehidupan RT Nabi
saw.
3. Jika sekarang jumlah perempuan lebih banyak dari kali2,
misalnya 1 banding 5, lalu yang satu mau dikemanakan? Atau ada konsep
lain selain poligami supaya semua perempuan punya suami. Lalu yang
banci sejak lahir bagaimana? siapa yg mau menikahi? Dan bagaimana
hukumnya? Masuk ke golongan yang mana? Apakah statistik itu memasukkan
juga yg banci sejak lahir?
Soal pertanyaan nanti di akhirat:
1.
Tidak hanya yg tidak berpoligami yg akan dipertanyakan oleh Allah swt.
Bahkan yang berpoligami akan lebih banyak dipertanyakan oleh Allah
swt. Misalnya, apa tujuan berpoligami? Mengapa isteri pertama dan
anak2nya berantakan? Sudahkah berbuat adil terhadap isteri2nya? Apakah
kamu tidak sering berbohong pada isteri2nya. Mengapa sering berbohong
pada isteri dan anak2nya. Jika seorang suami dan pemimpin RT sering
berbohong pada keluarganya, apa jadinya rumah tangga itu?
2. Ala
kulli hal, org yg berpoligami akan lebih banyak pertanyaan yg diarahkan
padanya ketimbang org yg tdk berpoligami. Sama halnya org yg banyak
hartanya akan lebih pertanyaan ketimbang yg sedikit hartanya. Semakin
banyak isteri akan semakin banyak pertanyaan. Nanti di akhirat tidak
bisa lagi berbohong seperti di dunia. Waduh..waduh..waduh.. nikmat tapi
ngeri berpoligami itu. Nikmatnya sebentar, ngerinya lama. Gak ah, aku
gak mau poligami, ngeri..Satu saja sudah cukup.
3. Saya tidak berani
anti hukum poligami. Yang saya pertanyakan itu pelakunya. Ya Allah, ya
Rabbi, apa bener laki2 yg berpoligami sampai 4 isteri itu kuat
melayani. Jangan2 menyiksa isteri yg lain. Oh ya, kalau sdh terlanjur
berpoligami, dan gak mampu melayani 4 isteri, hehehe ,gmn yach,,,,,,#sekedar share semoga bermanfaat,,aamiin YRA

Jakarta Time
0 komentar:
Posting Komentar