Kamis, 21 Juni 2012

Poligami

"Poligami"

Tentang poligami yang benar2 mengikuti sunnah Nabi saw. Bukankah poligami ada syarat2nya? Yaitu adil. Dalam ayat ttg poligami itu disebutkan “Jika kamu takut tidak mampu berbuat adil, maka cukup satu isteri.”
Karena itu kita harus menjawab beberapa pertanyaan berikut sehubungan persyaratan adil dalam poligami:
1. Apakah adil menjadi syarat sahnya poligami atau hanya sekedar syarat keutamaannya? Artinya walaupun tidak adil tetap sah, tapi tidak mendapat keutamaan dalam berpoligami.
2. Apakah adil itu berkaitan dengan materi atau non-materi, misalnya perasaan cinta, perhatian, dan lainnya? Jika berkaitan dg materi, itu mudah kalkulasinya pakai kalkulator. Tapi yang berkaitan dg non-materinya, apa ukurannya?
3. Memang adil tidak berarti sama. Adil menempatkan sesuatu pada tempatnya. Maka itu perlu sosok contoh dalam hal adil disini. Tidak cukup hanya konsep. Jika benar2 contohnya Rasulullah saw, maka jelas isteri pertamanya harus meninggal dulu.
4. Jika ukurannya perasaan, dari pihak mana tolok ukurnya? Suami yang berpoligami atau isteri yang dipoligami? Kalau Rasulullah saw perasaannya selalu terjaga, bagaimana kalau kita, mampu mennyeimbangkan perasaan?


Sekarang tentang soal marah Rasulullah saw pada isteri2nya:
1. Kalau Rasulullah saw jelas bisa mengkontrol emosinya, yaitu marah karena Allah dan cinta karena Allah swt. Tapi kalau kita, sulit dibedakan antara marah karena Allah dan marah karena hawa nafsu dan setan. Juga begitu cintanya.
2. Manusia biasa sulit bisa membedakan hal tsb Biasanya isteri yg servisnya lebih memuaskan dan lebih pinter merayu dia yang akan mendominasi suaminya. Kasihan dong isteri2 yg lain. Bukti yg umum terjadi, isteri tuanya jarang ditidurin, ditinggal2. Isteri mudanya sering ditidurin, bahkan lebih disayang dan diperhatiin. Inilah yang banyak terjadi, sehingga isteri tuanya merasa dan sakit hati yg dipendam lama2 akhirnya sakit jiwa. Jika demikian faktanya, maka poligami tidak membawa manfaat, keluar dari hikmah hukum poligami. Kita harus bedakan antara subtansi hukum dan hikmah hukum. Setiap ketetapan hukum dlm Islam punya hikmah hukum yakni tujuan yg hendak dicapai. Jika tujuan hukum itu tidak tercapai, siapa yang salah?

3. Jika dengan poligami rumah tangga dg isteri pertamanya berantakan. Apakah di sini tidak berdosa dan menggoncang Arasy Allah? Melaksanakan hukum poligami tapi efeknya dosa dan menggoncang Arsy Allah. Saya kira disini jelas tidak sesuai dengan tujuan Allah dan Rasul-Nya. Bukankah disini banyak buktinya, anak dan isteri pertamanya kecewa akhirnya berbuat kemaksiatan. Siapa yang salah, apakah hanya anak dan isteri? Atau juga suami yang berpoligami?

4. Kalau gitu, apa artinya berpoligami utk cari pahala tapi efeknya juga dosa. Ini untung di suami rugi di pihak isteri. Dan Allah Maha Adil dalam menetapkan hukum. Saya kira bukan begitu cara penerapan hukum poligami. Disini perlu dikaji ulang secara lebih dalam tentang ayat poligami. Jangan2 didominasi oleh pihak laki-laki.
5. Maaf, bisa jadi karena ustadz2 kebanyakan laki2, apalagi di zaman kekuasaan Islam dulu perempuan di rumahkan dan laki2 bebas berkeliaran. Coba lihat negara2 arab di Timur Tengah. Jangan2 terjadi manipulasi penafsiran hukum poligami dari dulu hingga sekarang. Karena para mufassir didominasi oleh laki-laki. Sampai sekarang saya belum pernah jumpai mufassir dari kalangan perempuan. Kasihan nasib perempuan.
6. Ayo kaum perempuan dan ibu2, belajar tafsir Al-Qur’an. Jangan hanya diserahkan pada laki-kali. Mufassir itu tidak selalu benar, mereka bukan makshumin, bisa jadi mereka itu salah dalam menafsirkan ayat ttg poligami.
7. Buktinya sampai skrg saya belum pernah membaca kitab2 tafsir yg tegas dan jelas apa yg dimaksudkan dengan adil dalam ayat poligami. Kita lacak dan kita diskusikan. Jangan2 terjadi manipulasi penafsiran utk menindas kaum perempuan. Soalnya sekarang banyak terjadi menindas dan menzalimi orang lain pakai dalil Al-Qur’an dan hadis.
8. Makanya, wahai kaum ibu dan kaum perempuan mari bangkit dan belajar. Sanggah itu pendapat kaum laki2 termasuk juga para mufassir. Sama2 manusia dan hamba Allah swt. Jangan mau kalah argument dg laki2. Mereka juga tidak terjaga dari salah dan dosa.

Soal jumlah perempuan lebih banyak dari laki2. Supaya lebih jelas, tolong diposting perbandingan jumlah laki2 dan perempuan: 1 banding 4 atau lebih? Apakah data statistik itu akurat? Apa dasar akurasinya? Apa jaminannya bahwa disitu tidak terjadi manipulasi data? Oke, utk sementara tidak apa2, krn memang belum diposting data statistiknya. Saya hanya ingin mengementari beberapa hal:

1. Jika dasarnya jumlah perempuan lebih banyak dari laki2, apakah saat Nabi saw bersama Khadijah (sa) jumlah perempuan lebih sedikit shg Nabi saw tidak perlu berpoligami? Dan saat Khadijah wafat jumlah perempuan meningkat drastis sehingga Nabi saw harus berpoligami?
2. Ini semua alasan dibuat oleh kaum laki2 utk mencari pembenaran prilakunya. Kita harus katakan dg tegas, bukan itu penyebabnya Nabi saw tidak berpoligami dan berpoligami. Ada sebab dan maksud yg lain, yang belum diungkap. Itulah mesteri kehidupan RT Nabi saw.
3. Jika sekarang jumlah perempuan lebih banyak dari kali2, misalnya 1 banding 5, lalu yang satu mau dikemanakan? Atau ada konsep lain selain poligami supaya semua perempuan punya suami. Lalu yang banci sejak lahir bagaimana? siapa yg mau menikahi? Dan bagaimana hukumnya? Masuk ke golongan yang mana? Apakah statistik itu memasukkan juga yg banci sejak lahir?

Soal pertanyaan nanti di akhirat:
1. Tidak hanya yg tidak berpoligami yg akan dipertanyakan oleh Allah swt. Bahkan yang berpoligami akan lebih banyak dipertanyakan oleh Allah swt. Misalnya, apa tujuan berpoligami? Mengapa isteri pertama dan anak2nya berantakan? Sudahkah berbuat adil terhadap isteri2nya? Apakah kamu tidak sering berbohong pada isteri2nya. Mengapa sering berbohong pada isteri dan anak2nya. Jika seorang suami dan pemimpin RT sering berbohong pada keluarganya, apa jadinya rumah tangga itu?
2. Ala kulli hal, org yg berpoligami akan lebih banyak pertanyaan yg diarahkan padanya ketimbang org yg tdk berpoligami. Sama halnya org yg banyak hartanya akan lebih pertanyaan ketimbang yg sedikit hartanya. Semakin banyak isteri akan semakin banyak pertanyaan. Nanti di akhirat tidak bisa lagi berbohong seperti di dunia. Waduh..waduh..waduh.. nikmat tapi ngeri berpoligami itu. Nikmatnya sebentar, ngerinya lama. Gak ah, aku gak mau poligami, ngeri..Satu saja sudah cukup.
3. Saya tidak berani anti hukum poligami. Yang saya pertanyakan itu pelakunya. Ya Allah, ya Rabbi, apa bener laki2 yg berpoligami sampai 4 isteri itu kuat melayani. Jangan2 menyiksa isteri yg lain. Oh ya, kalau sdh terlanjur berpoligami, dan gak mampu melayani 4 isteri, hehehe ,gmn yach,,,,,,


#sekedar share semoga bermanfaat,,aamiin YRA

0 komentar:

Posting Komentar